Situs Judi Online Terpercaya dan Terlengkap

Napoli Sudah Siap Menyambut Inter Milan

Jelang duel berat kontra Inter Milan, Napoli menyambutnya usai mimpi Scudetto mereka diguncang AS Roma.

Gejolak itu sekonyong-konyong datang di tengah malam sampai membangunkannya dari mimpi, mimpi yang indah. Mimpi yang membuat raut wajahnya begitu berseri sejak memejamkan mata.

Padahal tidak mudah baginya untuk mengalami mimpi indah, yang tak punya jaminan hadir di setiap malam. Hari yang panjang penuh lika-liku harus dijalani hingga akhirnya bisa terlentang di atas tilam, untuk terlelap seraya berharap dihadiahi mimpi indah.

Kira-kira itulah yang terjadi pada Napoli saat diguncang 4-2 oleh AS Roma di San Paolo, Sabtu (3/3) lalu. Sebelum laga mereka sedang jalani mimpi indah untuk mendaki ke tangga Scudetto. Sesuatu yang tak pernah dirasakannya selama nyaris 28 tahun terakhir.

Napoli yang jadi kebanggaan Italia Selatan, secara luar biasa menduduki singgasana klasemen Serie A Italia musim ini sejak giornata perdana. Mereka membuka musim dengan kemenangan di delapan giornata beruntun.

Dalam sepuluh giornata beruntun sebelum duel hadapi Roma, Napoli juga tak pernah kehilangan satu poin pun. Mereka cuma terpeleset empat kali, dengan tiga kali imbang dan sekali kalah. Sesuatu yang tidak bisa tidak dibilang luar biasa.

Pasalnya berbicara skuat dan kekuatan finansial, Napoli jelas bukan tim mentereng. Mereka cuma menghabiskan €13,75 juta di bursa musim panas lalu, untuk kemudian lebih percaya pada skuat lawas yang mayoritas sudah bersama dalam lima tahun terakhir.

Di bawah arahan Maurizio Sarri, I Partenopei juga mampu membalut segala hasil gemilang dengan permainan cantik yang mengundang decak kagum khalayak sepakbola Eropa dan dunia. Scudetto kemudian muncul sebagai target objektif mereka musim ini.

Konsekuensinya jelas ada. Dengan situasi skuat lapis kedua yang tak sekompetitif tim-tim besar lain, Napoli mau tak mau harus melepas Coppa Italia, Liga Champions, juga Liga Europa secara dini guna fokus jalani impian Scudetto. Ya, gelar yang dipandang orang Italia Selatan sebagai Piala Dunia.

Ironisnya Napoli menantang sebuah tim yang begitu adidaya di Negeri Pizza, Juventus, sang peraih Scudetto enam musim terakhir. Si Nyonya Tua awet menguntit kesempurnaan yang dimiliki mereka, dengan jarak sebiji poin.

Artinya sedikit saja terpeleset Napoli bisa seketika kehilangan status Capolista dan lebih jauh, Scudetto. Gejolak itulah yang terjadi dalam kekalahan 4-2 kontra Roma pekan lalu.

Kekalahan yang entah bagaimana bisa terjadi. Bermain di San Paolo, Napoli menguasai permainan hingga persentase 65 persen, melepaskan 22 tembakan, delapan di antaranya tepat sasaran, dan sepuluh sepak pojok.

Roma hanya bisa mencapai setengah sederet angka teknis itu, kecuali jumlah gol. Edin Dzeko yang melempem dalam tiga bulan terakhir tiba-tba mengamuk dengan cetak dua gol. Napoli juga kurang beruntung pada gol defleksi Cengiz Under dan sudah lepas konsentrasi untuk gol Diego Perotti.

Segalanya diperburuk karena Juve secara ajaib bisa menang 1-0 atas Lazio, lewat gol Paulo Dybala di detik terakhir laga. Akumulasi situasi negatif, yang membuat Napoli terbangun dari mimpi indah di tengah malam.

Hingga detik ini Napoli memang masih jadi Capolista, dengan keunggulan satu poin atas Juve yang masih menyimpan satu pertandingan. Namun status tersebut bisa lepas seketika karena laga berat hadapi Inter Milan di Giuseppe Meazza sudah menanti, Senin (12/3) dini hari WIB.

Inter tentu saja bukan lawan sembarangan. Selain punya nama besar, I Nerazzurri sedang gencar memburu empat besar klasemen, bermain di kandang, dan merupakan tim pertama yang memutus kemenangan beruntun Napoli di Serie A musim ini.

Namun dengan segala hormat, Napoli merupakan unggulan dan kemenangan adalah harga mati. Mereka harus sadar sudah memasuki periode krusial dalam setiap kampanye, yang hadir pada Maret sampai April. Jika tak menyambutnya dalam kondisi terbaik, Scudetto yang diimpikan bisa benar-benar melayang.

Kini semua tergantung pada Dries Mertens cs. Performa mereka sepanjang musim ini sudah luar biasa dan pada titik ini mereka butuh ketenangan, kematangan, dan keyakinan. Tiga hal yang ditunjukkan oleh tifosi yang Napoli usai kalah dari Roma, dengan tetap tinggal di San Paolo sembari menyanyikan chant Capolista.

Gejolak boleh hadir, tapi Napoli hanya perlu berdiam sejenak, menyadari alarm belum berdering, kemudian memejamkan mata untuk kembali terlelap melanjutkan mimpi indah Scudetto.

Kategori: Serie A Italia

Kata kunci: ,

Tinggalkan balasasn

Alamat email tidak akan dipublikasikan.

Catatan